Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Point Of View

Sebelum Mei Berakhir...

Tanggal 26, kalau boleh jujur, butuh beberapa hari kemudian untuk mengurai kejadian yang belakangan terjadi dan menyusunnya dalam sebentuk tulisan. Tak ada gagasan pasti selama masa tersebut, semua seperti berebut untuk segera dituliskan. Ujung-ujungnya malah mengikuti kata hati untuk tetap mencatat tanggal ini, walaupun belum selesai. Alasannya ? Terlalu sendu untuk diungkapkan secara gamblang. Nanti malah tengsin sendiri dan enggan kembali untuk sekadar membaca seperti yang sudah-sudah. Semuanya berawal ketika suatu rencana yang sedikit keluar jalur di awal bulan ini. Pilihan untuk sementara bertahan, terpaksa diakhiri lebih awal dari perkiraan. Sayangnya, antisipasi untuk mengeksekusi rencana selanjutnya belum cukup matang sebagai cadangan. Situasi yang bikin runyam pikiran, seperti hidup tanpa tujuan. Surel mingguan yang setahun terakhir meramaikan kotak masuk, kali ini menjadi kawan yang paling memahami keadaan. Menuliskan sebuah kisah tentang manusia yang tergolong paling banyak ...

Sepotong Kain Penutup yang Menjulur

Ketika melihat barisan angka di kalender dan penandanya, seketika aku tergelitik untuk menulis. Sejujurnya, aku termasuk golongan orang yang suka bertanya, mengapa hal kecil perlu dirayakan? Contohnya, seperti saat ini, dalam rangka memperingati World Hijab Day . Bahkan untuk memakai kerudung pun ada hari peringatannya? Tetapi lambat laun aku menyadari, peringatan itu tak melulu bersifat personal. Mungkin lebih ke peningkatan kesadaran secara kolektif, mengingat ada urgensi di balik persoalan yang diperingati itu. Seperti peringatan hari ini, persoalan tentang hijab masih jadi bahasan di beberapa kalangan dan situasi. Ada yang berpendapat mengenakannya adalah sesuatu yang wajib, namun tak sedikit pula yang menganggap tidak demikian. Ada yang dilarang menggunakannya, sedang ada juga yang memilih menanggalkannya dengan sukarela. Ada yang prosesnya dimudahkan, ada juga yang mesti kesulitan melaluinya. Rupa-rupa warnanya. Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Lah… Sudah lama tersimp...

Bagaimana Jika...

Sedang asyiknya blog walking dan melihat tanggal kapan postingan terakhir itu ditulis,  seketika aku berpikir.... Bagaimana jika si pemilik blog yang aku kunjungi sudah tinggal nama? Sedang bertukar sapa dan saling bertanya kabar walau hanya lewat ketikan. Melihatnya online dari sebaris status yang terpampang di layar,  aku seketika berpikir... Bagaimana jika itu menjadi saat terakhir berbicara dengannya? Sedang asyik menertawakan sebuah lelucon, dan menikmati saat berkumpul bersama mereka -orang-orang yang menempati jajaran prioritas utama-,  seketika aku berpikir... Bagaimana jika momen ini tidak lagi ditemui di lain hari? Masih ingat siapa adik ini?   Jangan tanyakan mengapa. Aku pun tak mengerti bagaimana jika... membawaku pada sebuah pemikiran mengenai batasan. Lengkap dengan sendu sebagai pengiring detik yang senantiasa menghantarkan setiap langkah menuju batasan itu. Untuk sebuah pengandaian yang tiada terencana, seharusnya tak sejauh itu, kan?  ...

Going (Extra) Miles

Rasanya gak mungkin kalau dalam hidup gak ada perubahannya sama sekali. Beberapa tahun bertahan hidup di dunia, menyadarkanku apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta  ada saja hal yang berubah meskipun kita ingin tetap berdiam dalam suatu momen (mungkin). Masih ingatkan waktu sekolah dulu tentang ciri-ciri makhluk hidup? Itu lho, yang salah satunya adalah bergerak. Jadi, mau gak mau, suka tidak suka kita memang harus bergerak. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kenapa seketika teringat sesuatu ya?  Hm… bergerak yak? Tiba-tiba aku jadi kepikiran kata-kata ini, target, progress , dan pencapaian. Kenapa kepikiran kata-kata itu? Gak tau. Mungkin, karena mereka punya hubungan (entah sebagai kakak-adik, teman, keluarga atau apapun itu) dan seolah selalu menjadi tolok ukur perubahan yang terjadi dalam hidup seseorang. Misalnya saja, ketemu teman yang udah lama gak saling bertukar kabar. Biasanya, pertanyaan awal yang selalu dijadikan senjata ampuh unt...

Kebebasan yang Kebablasan

Kalau menurutmu, kebebasan itu seperti apa? Eh… salah. Sepertinya, kebebasan itu yang bagaimana? Beberapa opsi yang muncul di benakku mendengar kata 'bebas' adalah, apakah bebas menentukan pilihan tanpa campur tangan atau pengaruh orang lain? Apakah bebas untuk berekspresi tanpa harus merasa takut menjadi aneh? Atau… Apakah bebas menentukan sikap/bersikap tanpa khawatir dihakimi karenanya? Sampai sekarang aja, sejujurnya aku gak punya gambaran pasti soal kebebasan. Kalau menganut versiku dulu, ada dua anggapan kebebasan yang mendekati ideal. Pertama, sesuatu baru dikatakan bebas kalau kita lebih banyak diuntungkan di dalamnya. Wajarlah, siapa juga yang mau rugi? Sudah pasti kalau diberi pilihan, semua orang akan memilih mana yang menyenangkan untuknya. Kedua, kebebasan itu kalau bisa yang gak ada aturan main nya.  Hehehe, gak salah kan? Mau bebas dari mana kalau sedikit-sedikit diberi batasan? Kalau begitu mah, bukan bebas namanya 🤣. Minimal, aturan mainnya gak banyak mengeka...

Biarkan Sajalah

Sebelumnya sudah pernah aku tuliskan mengenai kegiatanku sekarang yang lebih banyak berada di rumah kan? Sejak jarang keluar, praktis aku lebih sering berhadapan dengan layar kaca. Walau jaman sekarang, layar kaca tidak selalu berarti televisi. Setidaknya, menurutku 😁 Tidak, aku tidak banyak menghabiskan waktu untuk menonton tivi karena malas menyaksikan drama. Tahu sendiri kan kalau siaran tivi sekarang banyak dramanya? Eh…tapi kalau drama yang ditayangkan menarik, bolehlah dipikir ulang. 😂 Jadi, hampir sebagian besar waktuku ada di depan laptop. Bukan untuk menyelesaikan tugas ataupun sejumlah target, tetapi menjelajah sebagai penyamaran untuk menunda. Walaupun, gak jelas juga sebenarnya apa yang aku jelajahi itu. Tapi… dari ketidakjelasan itu, ada hal yang masih bisa disyukuri. Salah satunya, bertemu ide untuk menuliskan beberapa pengalaman tentang pertemuan dalam blog ini. Well , mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi lebih sering dan mengenal macam-macam orang, sampai juga ak...

Jomlo Perak

Pertama kali kenal istilah jomlo perak itu ketika aku masih SMA. Tepatnya, ketika akhirnya aku punya kesempatan membaca tulisan Raditya Dika dalam Manusia Setengah Salmon. Di bagian itu, diceritakan sebuah keresahan seorang mbak yang masih saja melajang di usianya yang menjelang 25 tahun. Usia yang bagi sebagian orang dianggap ideal untuk mulai menjalani kehidupan berumah tangga. Sayangnya, jangankan berumah tangga, berpacaran saja belum pernah. Eh… tapi si mbak kuat juga yak untuk menjomlo sekian lama.😃 Kalau jaman sekarang, boro-boro menjomlo dari lahir. Jomlo baru dalam hitungan bulan aja sudah mulai mencari incaran. Bahkan sepertinya aku mulai jarang menemukan orang-orang yang belum pernah pacaran sama sekali sejak hari pertama dia ada di dunia ini, kecuali bocah SD. 😂 Eh, tapi, anak-anak sekarang cenderung cepat sih perkembangannya. Anak TK aja udah tau yang namanya cowok cakep, cewek cantik, atau mengaku naksir seseorang. Beberapa tahun setelah membaca tulisan tersebut, ingatan...

Ketika Kita Bertemu dalam Pelarian...

Pernah nonton Jab We Met yang diperankan oleh Shahid Kapoor dan Kareena Kapoor? Bukan dokumen pribadi Itu lho… film yang mengisahkan tentang pertemuan dua orang asing dalam suatu kereta yang berlanjut menjadi beberapa perjalanan setelahnya. Sebagai salah satu film dengan  genre romance , film ini sempat membuat aku terpesona dengan ide yang diusungnya. Kemudian berhalu ria, seandainya pertemuanku dan mas jodoh seindah Shahid-Kareena di film ini.  Sepertinya jarang banget kasusnya ketemu orang asing dalam perjalanan hingga berakhir saling cocok satu sama lain. Peluangnya hampir mendekati nol. Lebih tepatnya untukku sih, yang melakukan perjalanan sendirian ke kota lain saja bisa dihitung jari. 😁 Eh, tapi… tulisan ini bukan bertujuan untuk me review  filmnya. Sama sekali bukan. Karena aku bukan pengamat yang pandai untuk menilai film. Gara-gara menonton film ini aku jadi kepikiran,  apakah melarikan diri bisa menjadi salah satu cara untuk menyelesaikan masalah? Sejauh...

Menulis Pun Kudu Sabar

Kalau ada beberapa kata yang tak bisa disampaikan secara lisan, maka setidaknya masih ada tulisan yang jadi pilihan. Cieileh, baru kata pembuka aja udah begitu bahasannya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya I'm one of kind people who better say it with writing . Hampir-hampir, semua pemikiran yang gak bisa aku suarakan, aku ungkapkan lewat tulisan. Hmm, lebih terstruktur aja gitu rasanya. Maybe before it's done, already think twice on how to deliver it and having many times of corrections. Sampai akhirnya, Oke deh. Buat aku sendiri, berhubungan dengan tulis menulis itu udah semacam adiksi. Ada semacam excitement ketika berhasil menyelesaikan satu tulisan dan membaca lagi isi tulisan itu. Kalau udah selesai nulis, jadi ketagihan untuk bikin tulisan baru. Walaupun kendalanya sudah sangat hapal di luar kepala, mau nulis apa lagi habis ini? Oleh karena seringnya ketemu ide mendadak dikala situasi sedang tidak memungkinkan untuk menulis lebih lama, jadi aku simpan saja du...

Being Fearless to Speak Up!

For those, who haven’t any courage to speak up, I know, most people I met in person out there said that I'm too talkative. In fact, hmm, maybe. Depend on the occasion that occur. But I do realize sometimes that there is an energy that boost up my mood when I’m surrounded by people. So, it makes me automatically talking a lot of things around just in a minute. I can make the conversation last longer sometimes when talking to a stranger I just met. Obviously, it could jump from a topic to another and back again to the first topic that we talked before. Well, I just realized it when I’m writing this a minute ago. Hey… I bet you’re already tired just by reading this introduction. See… could you imagine that? Maybe it's because of my curiosity. I don’t know exactly where some random topics that across my mind are comes from so I have some things to talk about, but I’m grateful. At least, the person whom I talked to didn’t feel bored while we're talking (or I guess th...