Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Liberation of Mind

Sebelum Mei Berakhir...

Tanggal 26, kalau boleh jujur, butuh beberapa hari kemudian untuk mengurai kejadian yang belakangan terjadi dan menyusunnya dalam sebentuk tulisan. Tak ada gagasan pasti selama masa tersebut, semua seperti berebut untuk segera dituliskan. Ujung-ujungnya malah mengikuti kata hati untuk tetap mencatat tanggal ini, walaupun belum selesai. Alasannya ? Terlalu sendu untuk diungkapkan secara gamblang. Nanti malah tengsin sendiri dan enggan kembali untuk sekadar membaca seperti yang sudah-sudah. Semuanya berawal ketika suatu rencana yang sedikit keluar jalur di awal bulan ini. Pilihan untuk sementara bertahan, terpaksa diakhiri lebih awal dari perkiraan. Sayangnya, antisipasi untuk mengeksekusi rencana selanjutnya belum cukup matang sebagai cadangan. Situasi yang bikin runyam pikiran, seperti hidup tanpa tujuan. Surel mingguan yang setahun terakhir meramaikan kotak masuk, kali ini menjadi kawan yang paling memahami keadaan. Menuliskan sebuah kisah tentang manusia yang tergolong paling banyak ...

Surat Maryam, Natal, dan Bethlehem

Dalam suatu mihrab, seseorang bermunajat pada Tuhannya. Memintanya mengabulkan pengharapannya dengan sangat lembut. Katanya, "Sungguh belum pernah sekalipun aku kecewa untuk meminta padaMu. Sebab kekhawatiran sepeninggalku, maka karuniailah aku seorang yang akan mewarisiku, dan keluarga Yakub, dan jadikanlah ia seseorang yang engkau ridhai.” Tak lama kemudian, Tuhan pun memperkenankan doanya di tengah kemustahilan nalar manusia. Tetapi… bukankah tidak ada yang tidak mungkin bagiNya? Lalu kisah tentang seorang perempuan yang dimuliakan karena kepatuhannya pada Tuhannya. Suatu ketika, di tengah pengasingannya, beliau bertemu sosok asing yang sempurna. Tetapi keindahannya justru menjadikannya memohon perlindungan kepada yang Maha Pengasih dari sesuatu yang keji. Hingga sesosok asing itu menerangkan siapa dirinya dan apa yang diperintahkan padanya. Sekali lagi, kabar tentang sesuatu yang mustahil bagi nalar manusia. Tetapi kuasaNyalah yang menentukan apa yang dikehendakiNya. Kemudian ...

Bagaimana Jika...

Sedang asyiknya blog walking dan melihat tanggal kapan postingan terakhir itu ditulis,  seketika aku berpikir.... Bagaimana jika si pemilik blog yang aku kunjungi sudah tinggal nama? Sedang bertukar sapa dan saling bertanya kabar walau hanya lewat ketikan. Melihatnya online dari sebaris status yang terpampang di layar,  aku seketika berpikir... Bagaimana jika itu menjadi saat terakhir berbicara dengannya? Sedang asyik menertawakan sebuah lelucon, dan menikmati saat berkumpul bersama mereka -orang-orang yang menempati jajaran prioritas utama-,  seketika aku berpikir... Bagaimana jika momen ini tidak lagi ditemui di lain hari? Masih ingat siapa adik ini?   Jangan tanyakan mengapa. Aku pun tak mengerti bagaimana jika... membawaku pada sebuah pemikiran mengenai batasan. Lengkap dengan sendu sebagai pengiring detik yang senantiasa menghantarkan setiap langkah menuju batasan itu. Untuk sebuah pengandaian yang tiada terencana, seharusnya tak sejauh itu, kan?  ...

Berebut Tanah Warisan

Alkisah, pada suatu negeri yang jauh di sana, sekelompok kaum datang dan mengklaim bahwa tanah itu miliknya sejak ribuan tahun yang lalu. Dengan membawa dalil yang bersumber dari sebuah kitab yang mereka percaya dan beragam bukti sejarah, mereka meyakinkan penduduk dan dunia bahwa merekalah yang terpilih dan memiliki hak atasnya. Sedangkan kaum yang sejak lama sudah mendiami tanah itu, menjadi saksi atas apa saja yang mereka lakukan. Mereka tidak lantas pergi dan meninggalkannya meskipun segala bukti dipaparkan. Tidak peduli pada kebengisan yang lambat laun akan memusnahkan keberadaan mereka. Bagi mereka, sebutir debu di tanah itu masih lebih berarti dari darah mereka sendiri .  Mengapa? Sebab mereka percaya, tanggungjawab untuk menjaga tanah itu ada padanya. Bukan hanya sekadar memiliki dan berkuasa atasnya. Tetapi menjaga kesuciannya dari kerusakan yang dilumuri nafsu untuk menguasai dunia. Kumpulan anak-anak main burung Barangkali kisah serupa sudah sering melintas di berbagai m...

Sebuah Kisah dan Keresahan Seseorang

Ramadhan, 16 Seorang gadis berada dalam kerumunan orang yang tengah menyuarakan haknya. Langkahnya bergerak mondar-mandir untuk mencari targetnya, orang-orang yang membutuhkan bantuan. Sesekali mengajak rekan sesamanya untuk segera menolong korban. Tak peduli pada suara peluru yang beberapa kali ditembakkan juga lemparan gas air mata yang memedihkan netra sekaligus menghalangi pandang. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada seseorang yang terkapar tak berdaya dengan luka menganga. Teriakkannya sudah sangat parau, sebab tenaganya telah terkuras melawan kaum bebal yang kerap merampas hak mereka. Luka akibat tembakan peluru menganga, merembeskan darah pada kulitnya yang robek di kakinya. Sedang untuk berjalan saja rasanya ia tak mampu. Di sekitarnya, peluru masih terus ditembakkan, memburu membabi buta. Juga sisa emisi gas air mata yang setia menghujani berbaur debu. Balasannya? hanya sebuah lemparan batu. Menambah lengkap suasana mencekam yang menggetarkan kaki melangkah mendek...