Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang September

Mari lihat seberapa jauh aku bercerita dalam hitungan kesembilan ini. Tak banyak hal yang kuukir. Masih tentang usaha untuk menjadi baik. Aku rasa, sepanjang hidup pun akan terus bergumul dengan hal ini. Entah sampai kapan. Sulit memang. Bukankah ujian memang tak pernah mudah? Bila mudah, mengapa harus ada ujian? Sekali lagi, jawaban sudah kuketahui dengan pasti. Yang tidak pasti adalah keinginan yang mudah diterbangkan angin. Yang tidak pasti adalah hasrat untuk membawa diri jatuh. Yang tidak pasti adalah tentang suatu masa yang terus dipertanyakan sedang hadirnya saja belum tentu mendapat sambutan. Tak perlu bertanya, mungkin sudah tahu bukan apa jawabannya. Lelah. Tetapi lelah saja tidak akan menuntaskan masalah. Aku tahu itu. Aku juga belum ingin menyerah. Bisa saja inilah salah satu kesempatanku menikmati hidup walau dengan payah. Ah… Satu episode lainnya sudah kulakoni. Mungkin pula untuk menyangkal bahwa aku tidak selemah yang dikira. Aku selalu me...

Jangan Bilang-Bilang, Ya?

Ada yang kangen gak sama aku beberapa bulan belakangan ini? Gak ada yak? Baiklah… aku ngumpet lagi aja. Eits… tapi, sebelum aku ngumpet, sengaja mau ninggalin jejak dulu. Siapa tau habis ini ada yang nyariin aku. Siapa tau kan? Oke deh. Gak perlu banyak basa-basi untuk pembukaan (karena aku yakin banget, basa-basinya selama cerita ini ditulis), so here we go …. Ceritanya… Aku menghabiskan malamku dengan ritual yang rutin gitu-gitu aja. Setelah kelar semua kerjaan, sikat gigi, cuci tangan, cuci kaki, bersih-bersih kasur, menata bantal, pasang selimut, dan tring… hape di tangan kanan, baca wattpad. Cerita yang aku baca mainstream sih sebenarnya. Apalagi coba kalau temanya gak jauh-jauh dari romance ? Karena kebucinan tidak bisa dilakukan di dunia nyata, alhasil cukup dunia khayalku aja deh yang bucin. Memang, cerita yang aku baca ini juga menceritakan kebucinan tokoh utama cowok dalam mengejar cinta sang mantan calon ipar. Nah lho… Gokil sih emang ini cerita. Majnunnya t...

Tentang Agustus

Terima Kasih, Bukan karena pada akhirnya telah memutuskan untuk berbelanja pada toko kami. Bukan juga karena telah mengunjungi kedai ini untuk sekedar menghamburkan waktumu. Ah… bukan tentang itu. Ini hanyalah serentetan kata yang diucapkan jauh dari dalam hati.   Terima kasih, Untuk bergerak kembali pada akhirnya setelah sekian lama berdiam. Untuk merasa jengah pada bisu yang menjalar dan menjerat dengan kuat. Untuk beranjak dari kenyamanan yang sesat. Beberapa yang sempat diniatkan dan direncanakan beberapa bulan yang lalu akhirnya berjalan. Tak mudah memang bergerak untuk melawan. Tak mudah bergerak meninggalkan kenyamanan. Hanya saja, jika tidak sekarang, mau sampai kapan? Bukankah cepat atau lambat ia harus kamu hadapi?    Terima kasih, Untuk merasa gerah. Untuk tidak menatap pada ketakutan. Untuk bersikap bodoamat terhadap hal yang sempat menjadi kekhawatiran. Sedari dulu, semesta pikiranmu memang rumit. Aku tahu. Hingga kamu lupa ...

Tentang Juli

Bagaimana hendak memulai? Sembari memikirkan beberapa kata untuk menulis, aku hanya bisa tersenyum. Bukan pada pencapaian yang sudah ku rancang dan berhasil terpenuhi dari jauh-jauh hari. Bukan pula karena tak lama lagi, salah satu tanggung jawabku terlepas. Bukan. Mungkin, beberapa orang yang melihatku menganggapku gila, atau terlampau bodoh. Entahlah. Aku tak lagi mendengar racau mereka yang selalu ingin tahu itu. Untuk apa? Toh mungkin saja kabarku saat ini menimbulkan dua warna pada diri mereka. Bila kuhitung kembali, sudah cukup lama juga aku mengisolasi diri. Tak lagi tertarik untuk berbasa-basi. Tak lagi berminat untuk tetap menyunggingkan senyum ramah. Juga tak lagi berniat untuk memperlakukan mereka dengan istimewa. Ah… mungkin masih. Tetapi hanya pada mereka yang benar-benar peduli. Lagipula, tidak semua orang harus dibahagiakan bukan? Tenang saja, Aku sudah mengetahui konsepnya sejak lama. Hanya saja baru benar-benar menerapkannya. ...

Tentang Juni

Photo by Lawton Cook https://unsplash.com/photos/m0wptz8vYpw Bukankah nuansa kemenangan mengental pada bulan ini? Ramai orang mendeklarasikan kemenangan atas perjuangan yang lalu. Kemenangan yang diagukan layaknya oasis di padang gurun. Menyejukkan, tetapi bisa pula mematikan. Ah... Mungkin menurutku saja. Nyatanya kemenangan yang aku rasakan tak sepenuhnya ada. Deklarasi itu tak semestinya diserukan terlebih dulu. Pada titik tertinggi itu, aku justru lengah. Larut dalam euforia kemenangan yang disambut banyak orang. Seharusnya aku ingat, masih panjang jalan yang harus dilewati. Seharusnya aku ingat, perihal menyiapkan perbekalan menuju jalan panjang. Seharusnya aku ingat, untuk tetap berjalan tanpa menghiraukan lelahku. Ah... Euforia ini membuatku lupa daratan. Titik tertinggi itu seharusnya menjadi awalan bagiku untuk lebih baik lagi. Aku ingat sempat berjanji sebelumnya. Pada titik dimana aku menjadi manusia yang baru, aku akan bersungguh-sungguh. Nyatanya, ucapan...

Tentang Mei

Photo by Océane George on Unsplash Aku hanya bergerak saja dalam perencanaan pendek. Tak peduli pada cerita panjang yang selalu membayang. Tak peduli pada penyangkalan sisi lainnya. Sebab, mereka juga akan tetap seperti itu. Berdebat tanpa jeda pun akhir. Adalah suatu makna, dari segala perjalanan pintas yang kulalui. Adalah suatu rasa, yang tersirat untuk sedetik saja. Adalah suatu tujuan, yang mungkin saja aku idamkan sejak dulu. Hingga suatu tanya kembali terbersit, inikah yang aku mau? Benarkah ini jalanku? Katanya, untuk menjadi bahagia itu tidak sulit. Benarkah begitu? Mengapa untuk mencapainya pun aku perlu meliuk mengikuti alur yang tak selalu lurus? Demi mencapainya, mungkin tak kujumpai waktuku sendiri. Demi mencapainya, mungkin banyak energi yang terkuras pada hal yang tak lama diolah. Demi mencapainya, mungkin perlu merasakan luka hingga godaan untuk memilih berpaling dan pergi. Pada akhirnya, menjadi bahagia perlu suatu perjuangan. Tidak mungkin memi...

Tentang April

Photo by Dominik Martin on Unsplash Perkara waktu yang selalu bergulir, aku tak menyangka bahwa ini sudah menginjak hitungan keempat. Bila membuka ruang ini dan melihat secara lebih luas, mungkin ada banyak hal yang mengalami perubahan. Bohong bila aku berkata bahwa aku tak berubah. Sebab aku adalah salah satu komponen jagat raya yang juga mengalami dimensi waktu. Tidak banyak secara fisik. Yang berbeda ialah gejolak dalam diri. Entah, darimana sumbu ini berasal, tetapi secara perlahan ia berpijar. Pemberontakkan, penyangkalan, hingga berani menyalahkan keadaan. Ia semakin bergerak tanpa kendali. Seolah nasihat para tetua tak begitu memiliki arti. Ia hanya alunan yang sengaja berdendang untuk menemani sepi. Hanya lewat, tanpa pernah menetap dan tinggal.  Ah… bahkan tidakkah kau rasakan sendiri tentang bara yang masih berpijar lewat rangkai aksara ini? Untuk sedetik kesadaran, aku mencoba merekanya dalam hening. Mengoreksi tentang catatan merah diri yang telah...