Langsung ke konten utama

Postingan

We Could Be In Love

Apakah hanya aku yang merasakan, tuan?   Akhir-akhir ini pikiranku seolah bergerak semaunya sendiri. Semakin meluas dan lebih jauh bila itu tentangmu.  Aku bertanya pada diriku sendiri tentang petanda di balik semua ini. Sapaanmu yang ramah. Senyum yang begitu manis. Serta mata yang berbinar, seolah memiliki segudang cerita yang mengajakku menyelami kedalamannya.  Apakah kamu tahu? Entah sejak kapan rasanya berbeda. Ketika tidurku menjadi lebih nyenyak dari sebelumnya. Ketika hariku menjadi lebih indah, menikmati setiap detik yang terlewat tiap kali kau dan aku bersama. Serta menanti pergantiannya kala kita berjauhan .  Seperti bintang yang begitu bersinar terang ketika kau berada di sampingku.   Denganmu, langkah-langkah menjadi ringan.  Denganmu, hari menjadi penuh warna yang memiliki aneka ragamnya.  Denganmu, mimpi yang mustahil terasa mudah untuk terengkuh.  Denganmu, seakan aku melupakan hiruk pikuk dunia yang carut marut. ...

Surat Kepada Kawan

Apa kabar kawan? Bagaimana harimu saat ini? Menyenangkan atau sebaliknya? Apakah kau lelah menjalaninya? Aku rasa tidak seberapa dibandingkan dengan tergapainya mimpimu. Karena pada akhirnya kau berhasil meraihnya bukan? Kawan… Kalau saja kau memiliki banyak waktu, sempatkanlah untuk membaca suratku ini. Maaf, kalau hadirnya tulisan ini dihadapanmu malah mengganggu kegiatanmu. Maaf, jika tulisan ini menyita pikiranmu. Maafkan aku yang mengganggumu kawan. Kawan… Ingatkah saat dulu ketika kita masih menggenggam mimpi yang sama? Banyak sekali rencana yang telah kita rancang dan ingin kita lakukan bukan?   Tetapi kemudian, jalan hidup mengubah segalanya. Impian yang kita rancang bersama harus gagal sebelum dilakukan. Kamu dengan jalanmu, begitu pula denganku disini. Aku bahagia. Karena pada akhirnya, kamu berhasil mengejarnya. Tetapi ada sebersit kekecewaan pada diriku. Karena kita gagal untuk mewujudkannya bersama. Mimpi itu, saat ini, kamu sendiri yang akan memperjuangk...

Dialog Malam

Malam… Aku ingat sekali. Dulu, saat aku masih mengharapkannya, aku selalu bercerita denganmu. Bercerita tentangnya. Membiarkan angin ikut menyimak rahasia antara kita dan berharap ia akan menyampaikan pesanku padanya. Aku tidak pernah tau, apakah angin telah menceritakan semua padanya atau bahkan tidak pernah menyampaikannya. Yang jelas, aku berharap sekali suatu saat dia akan tahu apa yang aku rasakan. Setiap pagi aku terbangun, aku selalu berharap bahwa akan ada keajaiban yang terjadi antara kami nanti. Hanya dengan menatap matanya, aku bahagia Hanya dengan memperhatikannya membaca buku, aku bahagia Hanya dengan menyapanya, aku bahagia Hanya dengan ia tersenyum kepadaku, aku bahagia Ya… bahagia hanya karena hal kecil yang dilakukannya. Tetapi aku tidak pernah tahu arti dari perasaan itu. Entah karena aku yang tidak mau mengakui kalau aku jatuh padanya, atau mungkin karena aku yang begitu naïf. Tetapi sayangnya keajaiban yang aku tunggu tidak pernah ada. Hingga ...

Surat Untuk....

Kepada hati yang hampir rebah, Aku tidak tahu apa yang membuatmu gelisah. Hingga begitu menikmati sendunya resah. Membuat raga merasa gerah karena jiwa yang tak kenal lelah. Seandainya saja engkau mau berbagi kisah. Tak perlu berkata ‘ Ah ’. Aku akan menemanimu hingga tiada susah. Hingga hilang semua keluh kesah. Hingga senja beranjak temaram. Berganti hiasan malam. Kita masih saling terdiam. Tanpa tahu apa yang tengah dipendam. Tetapi hati serasa remuk redam. Dan kemudian pikiran saling tenggelam. Dalam lautan hitam yang begitu kelam. Masih tanpa bicara. Tanpa berujar banyak kata. Tanpa terungkap segala makna. Yang melayang entah kemana. Entah kemana segala asa, yang berkobar dalam dada. Seketika tiada, tanpa meninggalkan secuilpun sisa. Membuat arah menjadi tiada. Membuat enggan keluarnya cerita. Baiklah, bagaimana jika aku yang terlebih dahulu memulai? Karena saat ini aku lelah mengandai. Cerita ini tentang mimpi yang belum tergapai. Tetapi bukan berarti tidak tercapai...

Kepada Malam Aku Bercerita

Kepada malam aku bercerita Tentang kisah seorang pengembara Mencari jati diri dibalik bingar dunia Mencari arti dari setiap angannya Kemana harus melangkah kemudian Menyusuri arus sungai kehidupan Hingga tibalah di titik persimpangan Ketika bisikan dan pendirian tak sepadan Perjalanan ini belum usai Karena makna belum terurai Karena tujuan belum tergapai Walau jejak tercerai berai Pengembara terus melangkah Tak dihiraukan penat dan lelah Walau angin menghasut, mendesah Tapi asa takkan goyah Kepada malam ia bertanya Adakah pertanda dibalik tanyanya Adakah didengar pengharapannya Adakah balasan dari penantiannya Seketika berbalas tanyanya Mengapa engkau meragukan-Nya Dialah yang tak pernah tidur Walau hari tlah berganti tutur Hilanglah keraguannya kini Bara pun bergejolak kembali Setelahnya ia berserah diri Menunggu putusan takdirnya nanti Kepada malam aku bercerita Mengulas kembali lembaran lama Tentang kisah sang pengembara Mencari arti kehidupannya

Kamu Berbeda

Lama gak ketemu, kamu apa kabar ?  Maaf kalau aku baru menyapamu. Aku tahu, selama ini aku terjebak dalam duniaku sendiri. Tetapi aku selalu memerhatikanmu dari jauh. Ya, hanya memerhatikanmu. Melihatmu berada di seberang kelasku. Sibuk dengan teman-teman barumu. Bertukar cerita, bercanda bersama, kemudian berlalu bersama mereka. Awalnya kupikir, mungkin kamu hanya mencari teman-teman baru untuk mengusir kesepianmu. Aku memaklumi itu. Karena aku terlalu disibukkan dengan duniaku. Maafkan aku yang membiarkanmu kesepian. Bukan maksudku demikian. Tapi aku akan selalu ada saat kamu butuh teman untuk menceritakan hari-harimu. Aku masih memerhatikanmu, walau lebih sering dengan kawan yang baru karena sekelas. Terkadang aku juga ingin bertemu dan melakukan beberapa hal yang sama seperti dulu. Walau mungkin saat ini, itu jarang terjadi karena kesibukkan kita masing-masing. Perlahan… aku mulai merasakan sesuatu yang aneh. Perubahan yang menciptakan sekat besar di antara kita. Kedatan...

Rasanya Enak, Tapi kok...

Jadi ceritanya waktu itu, lagi nonton acara yang ngebahas tentang brownies jamuran yang diolah lagi. Nah, tiba-tiba, adikku paling kecil minta diajarin buat brownies sama papa. Well , bukan brownies yang lagi ditayangin di tv pastinya yak. Karena kalau demikian, sama aja bunuh diri. Papa sih oke aja sama kemauan adikku ini. Toh juga, keinginannya mau belajar. Jadi papa mulai mengkomando adek untuk nyiapin bahannya. Begitu bahannya udah siap, Papa pun mulai beraksi! Langsung deh tuh, yang lainnya ikut melipir ke dapur buat melihat cara bikinnya. Karena, meskipun kerjaan Papa gak lepas dari buat roti dan kue, kegiatan ini jarang banget dilakuin Papa di rumah.  Pertama, cokelatnya dicairin dulu. Udah gitu mulai campur bahan-bahannya. Telur, tepung terigu, gula, cokelat cair, dan yang terakhir, KEJU KAMBING. Iya, keju kambing.    Eh... gak salah? Perasaan bikin brownies kejunya cuma jadi taburan di atasnya aja deh. Tapi ini dicampur juga ama browniesnya. Mendi...

Coba Kamu yang Jadi Aku!

Boleh gak kita tuker peran? Aku jadi kamu, dan kamu jadi aku. Biar kamu paham, juga merasakan gak enaknya diabaikan. Ok, mungkin aku memang tidak semenarik itu untuk sekadar bertukar sapa dalam versimu. Aku juga mengakui parasku mungkin tak seelok ratu kontes kecantikan ataupun sekelas bidadari yang konon cantik juga rupawan. Tapi setidaknya, semoga saja rasa menghormati seseorang belum mati dari hatimu. Tolong jangan memperlakukanku berbeda seolah aku bukan manusia pada umumnya. Coba bayangkan bila kamu yang ada di posisiku! Ketika kamu menyapaku untuk berbasa-basi, namun sayangnya tak ada tanggapan berarti. Aku lebih memilih pura-pura tidak mengetahui dan tenggelam dalam  layar game  yang sedang aku mainkan. Bagaimana perasaanmu? Kalau menurutmu itu tidak masalah, silahkan saja bertukar peran seterusnya. Biar kamu merasakan gak enaknya diabaikan. Ups, maksudku nikmatnya diabaikan seperti apa. Kuakui memang kita tak akrab.  Tapi salahkah bila hanya sekadar menya...

Sekedar Iseng

Berhubung udah terlanjur buka blog , jadi daripada nganggur mending diisi aja. Iya kan ?  Jadi, postingan kali ini, isinya tentang... Bagaimana kalo cerpen?  Sebagai pembukaan, cerpen ini adalah cerpen kesekian sekaligus jadi cerpen keenam yang berhasil aku tuntaskan dalam dokumen pribadi. Maklum aja, cerpen lainnya masih dalam proses. Entah kapan kelarnya.  Anyway , Cerpen ini juga sekaligus jadi cerpen pemecah rekor dalam hidupku sejauh ini. Percaya gak, kalau hanya perlu waktu 2 jam untuk pengerjaannya? Padahal sebelumnya, gak pernah tuh nulis cerpen selama 2 jam kelar semuanya. Paling banter, 2 jam itu baru dapet satu paragraf. Tapi gak tau kenapa, waktu menuliskan ini berasa ajaib banget. Sepertinya semesta mendukung. Dalam waktu 2 jam, kelar dari mikirin jalan cerita hingga menuliskannya. Tapi ya... berhubung hanya 2 jam, rasanya masih kurang maksimal deh, karena minus editing .  Ada yang penasaran seperti apa penampakkannya? Ya sudah, selamat membaca. ...

Jangan Meremehkan Yang Kecil

“ Ah, santai aja! Gampang tuh buatnya. Ntaran aja cepat kok kelarnya, ”    Ada yang kepikiran begitu juga gak sih kalau dikasih tugas yang gampang? Kalau ada, cheers , kita samaan. Suka menunda? Toss, aku juga gitu kok . Saking banyaknya tugas dan ulangan yang diberikan guru-guru demi mengejar nilai bagus di raport , kami (baca: para siswa) sampai bingung mau ngerjain yang mana duluan. Mulai dari tugas bikin laporan praktikum yang dikumpul pertemuan selanjutnya, prepare ulangan dari guru yang susah banget ngasih peluang buat kita untuk... ya, tau lah yak . (If you know what I mean ), sampai mesti bikin materi plus prepare buat presentasi. Belum lagi kalau misalkan perlu prepare alat dan bahan buat praktikum. Apalagi kalau deadline nya pada dekat semua. Widiw... mantabss Kalau udah gitu, jadi pusing nih mana yang mesti dikerjain duluan. Apalagi kalau lagi musimnya ulangan. Yang lebih ajib lagi, di masa-masa ulangan gini, ada juga tugas yang masih tetap setia untuk...